iec image
NEWS & ARTICLE
2013-05-01
Kekeringan Saat Kemarau Kebanjiran Saat Hujan

Kemarau yangmelanda Indonesia beberapa bulan terakhir mengakibatkan kekeringan di berbagaidaerah. Tidak turunnya hujan selama setidaknya 3 bulan terakhir mengakibatkanberhektar-hektar sawah mengalami gagal panen. Tidak hanya itu, penduduk jugamengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-harinya untukmemasak, mandi maupun mencuci akibat waduk maupun sumur penyimpan air disekitarnya mengalami kekeringan.

Keadaanseperti ini sesungguhnya tidak perlu terjadi, mengingat Indonesia memilikisimpanan air tawar yang cukup besar. Bahkan menurut sejumlah pakar, Indonesiamerupakan satu dari dua negara yang memiliki ketersediaan air tawar terbesar didunia. Salah satu sumber air tawar tersebut adalah curah hujan yang cukuptinggi dikarenakan kondisi Indonesia sebagai negara tropis. Yang cenderung terjadidi Indonesia saat ini adalah banjir saat curah hujan tinggi dan kekeringan saatmusim kemarau datang. Bijaksanakah bila kita menyalahkan alam atas terjadinyadua bencana tersebut?

Kekeringan di Berbagai Daerah di Indonesia

Kekeringanyang terjadi saat kemarau menunjukkan bahwa Indonesia saat ini belum memilikimanajemen sumber daya air yang cukup baik. Akses air bersih tidak hanya sulitdijangkau di daerah-daerah pedesaan yang terpencil. Beberapa kota juga memilikimasalah terkait akses air bersih, termasuk Jakarta.

Berdasarkandata Kementerian Kesehatan 2010, penduduk Indonesia yang bisa mengakses airbersih secara optimal baru 36,6 persen. Selain itu, ada lima provinsi yangjumlah penduduknya semakin sulit mengakses air bersih yaitu, DKI Jakarta, KalimantanBarat, Gorontalo, Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah. Kondisi terparah justruterjadi di DKI Jakarta (Cahyadi, 2011).

Pada loka karya internasional yang diselenggarakan UNESCO bekerja sama dengan LIPI dalam rangkamemperingati Hari Air Sedunia bulan Maret lalu, terungkap fakta bahwa wargamiskin kota ternyata lebih sulit mendapatkan air bersih. Mereka harus membayarlebih mahal dibandingkan dengan warga yang berlangganan air dari PDAM. HamongSantono, koordinator nasional Koalisi Rakyat Untuk Hak Atas Air (KRUHA)memberikan gambaran bahwa warga miskin di Jakarta harus mengeluarkan uang Rp1.500 per jerigen air bersih dengan kapasitas 20 liter. Pengeluaran tersebutsetara dengan Rp 50.000 – Rp 70.000 per meter kubik. Padahal harga air bersihdari PDAM hanya Rp 5.000 – Rp 6.000 per meter kubik.

Keterangan tersebut menggambarkan bahwa kota besar seperti Jakarta pun masih memilikimasalah sulitnya akses air bersih. Dengan datangnya musim kemarau, tidakmengherankan bila air bersih semakin sulit dijangkau oleh warga. Keadaan inipada umumnya dialami pula oleh sejumlah warga di berbagai daerah lain. Ratusanwarga di Kelurahan Cibabat, Cimahi, Jawa Barat misalnya, harus mengantri hinggamalam hari untuk mendapatkan jatah air yang bersumber dari jetpam bantuanpemerintah. Ini terjadi karena seluruh sumber air seperti sumur dan PDAM tidakmengalir sejak 4 bulan terakhir (Ard, 2011). Kekeringan juga terjadi diberbagai wilayah lain di Indonesia beberapa bulan terakhir seperti di JawaTengah dan Jawa Timur.

Banjir SaatMusim Hujan

Selainkekeringan, bencana ‘musiman’ yang terjadi di Indonesia adalah banjir. Hampirsetiap musim hujan tiba, beberapa daerah di Indonesia termasuk kota besarseperti Jakarta mengalami banjir. Banyak asumsi yang mengatakan bahwa bencanabanjir terjadi karena kesalahan alam. Alam diyakini memiliki siklustertentu yang menghasilkan curah hujan sangat tinggi sehingga menjadi penyebabutama banjir.

Dalam kondisi ideal, sesungguhnya jumlah aliran air di daratan dan jumlah air hujan yang jatuhke bumi adalah seimbang. Banjir terjadi karena terperangkapnya air hujantersebut di daratan akibat terhambatnya aliran menuju bagian hilir. Denganberkurangnya daerah resapan air dan kurangnya volume saluran air yangseharusnya membawa air menuju hilir, maka terjadilah genangan air di tempatyang bukan seharusnya.

Berkurangnya daerah resapan merupakan faktor yang terjadi karena kelalaian manusia.Khususnya di kota-kota besar, alam sudah kehilangan sebagian besar kemampuannyauntuk menyerap air karena tanahnya dimanfaatkan untuk bangunan tanpa daerahresapan air. Sementara saluran air yang ada di kota-kota besar tidak mampumenampung air hujan dikarenakan kondisinya yang kurang memadai dibandingkandengan jumlah air yang dihasilkan oleh penduduk kota ditambah dengan intensitashujan yang tinggi saat musim hujan tiba.

Pendekatan Pengelolaan Sumber Daya Air

Bencana banjirdan kekeringan nampaknya sudah menjadi ‘biasa’ terjadi di Indonesia. Namunsesungguhnya kedua bencana tersebut tidak perlu terjadi atau setidaknya dapatdikurangi setiap tahunnya bila dilakukan penanganan yang benar terhadap sumberdaya air di Indonesia. Penanganan tersebut dapat berupa pendekatan secara fisikmaupun non fisik. Pendekatan secara fisik, misalnya dapat dilakukan dengan penambahandaerah resapan air ataupun pembuatan waduk buatan dan sejenisnya. Pendekatansecara fisik juga termasuk pembuatan saluran air yang memadai untuk menampungair yang dihasilkan oleh penduduk serta air hujan. Sementara pendekatan secaranon fisik adalah melalui perencanaan tata ruang dan tata kelola air yang baik,selaras dengan kegiatan manusia. Tata ruang air tidak berarti menata ruang air,namun lebih kepada penataan ruang yang memberikan perhatian lebih kepada siklusair agar keseimbangan air terjaga. Misalnya dengan mewajibkan dibuatnya daerahresapan air bagi setiap pembangunan gedung baru, dan sebagainya. Dengandemikian, air pada musim hujan tidak menimbulkan masalah banjir di daratan dansebaliknya pada musim kemarau tidak terjadi kekeringan atau kekurangan air.

Untukmewujudkan kedua pendekatan tersebut tersebut dibutuhkan peran seriuspemerintah dengan kebutuhan anggaran dana yang tidak sedikit. Sudah saatnyapemerintah berani mengeluarkan dana lebih untuk penanganan sumber daya air ini,seperti halnya pemerintah berani mengeluarkan subsidi premium yang cukup besarbagi para pemilik kendaraan pribadi.

Author                                :  Gita Lestari

Date                                    :  -

Reference                          : 

Ard. (14 September 2011). Kekeringan Meluas, Masyarakat Kesulitan Air. 19 September2011. http://www.108csr.com/home/top_story.php?id=197

Asril,Sabrina. (29 Maret 2011). Jakarta KrisisAir Minum. 19 September 2011. http://megapolitan.kompas.com/read/2011/03/29/1536132/Jakarta.Krisis.Air.MinumCahyadi,

Cahyadi,Agung Dwi. (23 Maret 2011). Warga KotaSulit Akses Air Bersih. 19 September 2011. http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/801/warga-kota-sulit-akses-air-bersih

NG.(12 September 2011). Krisis Air Meluas.19 September 2011. http://www.mediaindonesia.com/read/2011/09/12/258465/265/114/Krisis-Air-Meluas

Widjajadi.(18 September 2011). Krisis Air Bersih diLereng Merapi Makin Parah. 19 September 2011. http://www.mediaindonesia.com/read/2011/09/18/260289/289/101/Krisis-Air-Bersih-di-Lereng-Merapi-Makin-Parah

iec image   PREVIOUS  |  NEXT   iec image