iec image
NEWS & ARTICLE
2013-02-04

Green Building: Solusi Strategis Pemanasan Global

Jakarta, sebagai ibukota negara Indonesia memiliki persentase sektor bangunan yang besar. Lebih dari 30% wilayah Jakarta merupakan wilayah terbangun, yangtermasuk dalam kategori sektor bangunan. Selain sektor transportasi, sektorbangunan di Jakarta menyumbang total emisi karbon dioksida yang signifikan. Halini tentunya sebanding dengan luasan sektor bangunan di Jakarta yang cukupbesar. Sebagai perbandingan, menurut berbagai literatur, sektor bangunan diAmerika berkontribusi 30% lebih dari total emisi karbon dioksida di negara tersebut.

Konsumsi energi pada sektor bangunan dapat dikatakan cukup besar untuk penerangan ataupun pendingin ruangan. Sumber energi untuk konsumsi gedung tersebut  berasal dari bahan bakar fosil yang mengemisikan karbon dioksida dalam jumlah yang sangat signifikan. Selain itu,sektor bangunan juga berkontribusi besar terhadap konsumsi air dan listrik disuatu wilayah. Menurut EPA, sektor bangunan berkontribusi terhadap 39% dari totalpemakaian energi, 12% dari total konsumsi air, 68% dari total konsumsi listrik,dan 38% dari total emisi karbon dioksida di seluruh wilayah Amerika (EPA,2011).

Jakarta dengan persentase sektor bangunan yang cukup besar dapat mengurangi emisikarbon dioksida melalui penerapan konsep greenbuilding. Penerapan konsep greenbuilding di Jakarta yang akan mengurangi konsumsi energi di pemukiman danbangunan komersial, secara potensial dapat mengurangi emisi 10 juta ton karbon dioksida per tahunnya (World Bank, 2012).

 

Green Building: KonsepBangunan Ramah Lingkungan

Green building didefinisikan olehEnvironmental Protection Agency (EPA) sebagai struktur bangunan yang environmentally responsible danmenggunakan sumber daya secara efisien di seluruh siklus hidupnya. Konsep inimemperluas dan melengkapi tujuan dari bangunan biasa yang selama ini hanyafokus kepada nilai ekonomi, utilitas, kekuatan dan kenyamanan bangunan. Green building dirancang untukmengurangi dampak menyeluruh akibat pembangunan terhadap kesehatan manusia danlingkungan, melalui:

-         Penggunaan energi, air dan sumber daya lainsecara efisien

-         Perlindungan kesehatan penghuni bangunan danpeningkatan produktivitas karyawan

-         Minimalisir timbulan limbah, polusi, dandegradasi lingkungan

Sebagai contoh, green building dapatmemanfaatkan material bangunan yang ramah lingkungan atau berkelanjutan dalamkonstruksinya (misalnya material hasil reusedan recycle, atau terbuat darisumber daya terbarukan); menciptakan lingkungan indoor yang sehat dan tidak tercemar polutan (yaitu denganmengurangi pemakaian produk yang mengemisikan polutan); serta perancangan landscape yang dapat meminimalisirpemakaian air.

Green Building Council Indonesia adalah lembaga mandiri (non government) dan nirlaba (not-forprofit) yang berkomitmen terhadap pendidikan masyarakat dalammengaplikasikan praktik-praktik terbaik lingkungan dan memfasilitasitransformasi industri bangunan global yang berkelanjutan. Green BuildingCouncil Indonesia atau GBCI ditunjuk oleh KLH sebagai Lembaga SertifikasiBangunan Ramah Lingkungan yang pertama di Indonesia. GBCI merupakan EmergingMember dari World Green Building Council (WGBC) yang berpusat di Toronto,Kanada. WGBC saat ini beranggotakan 73 negara dan hanya memiliki satu GBC disetiap negara.

Meskipunbelakangan ini banyak pengembang properti maupun perumahan yang menyatakan bahwa bangunannya berkonsep greenbuilding, pihak GBCI menyatakan saat ini baru ada dua gedung di Indonesiayang secara resmi telah memiliki sertifikasi Green Building. Dua gedung tersebut adalah Menara BCA di  Grand Indonesia Jakarta, dan  gedung milik PT. Dahana di Subang. Keduanyamendapatkan sertifikasi Greenship Platinum dari GBCI. Greenship adalah rating tools yang telah ditetapkan olehGBCI sebagai sistem penilaian yang menjembatani konsep bangunan ramah lingkungan dan prinsip keberlanjutan dengan praktik yang nyata.

 

Tantangan Penerapan Green Building di Jakarta

Indonesia telah memasang target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada tahun 2020. Hal ini seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden RepublikIndonesia Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi GasRumah Kaca (RAN – GRK). Demi mendukung upaya nasional tersebut Pemerintah Kota Jakarta telah berkomitmen untuk turut mengurangi emisi gas rumah kaca melalui Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau. Berdasarkan peraturan tersebut, seluruh gedung di Jakarta mulai April 2013 harus memenuhi persyaratan gedung ramah lingkungan atau green building.

Dibandingkan negara tetangga, Singapura, Indonesia saat ini memang jauh tertinggal dalam menerapkan green building.Saat ini di Singapura telah terdapat setidaknya 11.000 bangunan yang bersertifikasi green building. Diantara tantangan dari penerapan konsep green building di Indonesia adalah saat ini biaya pembangunan greenbuilding di Indonesia saat ini lebih mahal dari bangunan biasa.

Bintang Nugroho, Deputy of Organization and Events Green Building Council Indonesia menyebutkan, cost untuk membangun green building bersertifikasi platinum lebihtinggi 10% dari gedung biasa, gold (6%), silver (3%), sementara sertifikasi bronze tidak ada bedanya.

Pemerintah Singapura mengatasi tantangan ini dengan memberikan insentif berupa uang bagi pengembang yang membangun gedung dengan konsep green building. Menurut Ignesjz Kemalawarta, Ketua Badan Sertifikasi dan Advokasi Real Estat Indonesia (REI), Pemerintah Indonesia bisamemberikan insentif antara lain berupa pemotongan Pajak Bumi dan Bangunan(PBB).

Meskipun demikian, seiring berjalan waktu, biaya pembangunan green building pasti akan turun. Sebagai perbandingan, di AmerikaSerikat saat ini biaya pembangunan greenbuilding tidak berbeda dengan bangunan biasa.

Walaupun harus mengeluarkan biaya besar di awal konstruksinya, konsep green building justru akan mengurangibiaya operasional bangunan. Naning Adiwoso, Chairman GBCI menyatakan bahwa sebuah gedung komersil yang mengikuti standar penilaian Greenship biasanya mampu melakukan penghematan energi antara 26% sampai 40% setiap bulannya. Penghematan tersebut bersumber pada berkurangnya volume penggunaan AC, penerangan gedung, serta penggunaan air.

Ketua Umum Asosiasi Manajemen Properti Indonesia (AMPRI), Irwan Sendjaja menambahkan bahwa biaya operasional gedung yang semakin meningkat dapat diatasi dengan menerapkan konsep green building. Menurutnya, sebuah gedung yang disewakan akan menghabiskan biaya operasionallistrik lebih hemat 20 – 30% tiap bulannya. Meskipun investasi awal saat pembangunan lebih besar dari bangunan biasa, namun saat operasional justru pengelola gedung mendapatkan keuntungan dari penghematan penggunaan energi danair.

Selain itu, menurut Direktur Manager IEN Consultant Poul E Kristensen, dengan konsep hemat energi yang tepat, konsumsi energi suatu gedung dapat diturunkan hingga50%, dengan hanya menambah investasi sebesar 5% saat pembangunannya. IEN merupakan konsultan green building diKuala Lumpur, Malaysia. Keberhasilan menekan konsumsi energi hingga 50% tersebut telah terbukti dalam pembangunan green building diMalaysia. ”Dengan iklim dan tipikal gedung yang sama, gedung hemat energi diIndonesia diperkirakan juga dapat menekan konsumsi energi dengan persentase yang sama,” ujarnya.

Director of Rating and Technology Green Building Council Indonesia (GBCI) Rana Yusuf Nasir mengatakan 98% gedung di Jakarta merupakan bangunan eksisting dan 2%merupakan bangunan baru. Hal ini juga menjadi tantangan lain bahwa sebagianbesar bangunan eksisting di Jakarta belum sesuai dengan konsep green building. Menurut Hadjar SetiAdji, Green Program Representative Manager PT Pembangunan Perumahan (persero), konsep green building dapat terbagi menjadi dua yaitu Passive Design yangdikerjakan oleh arsitek dan Active Designyang dikerjakan oleh mekanik. Sebuah bangunan dapat diperbaiki menjadi green building dengan merubah passive design dan active design-nya. Konsep perubahan bangunan menjadi green building akan lebih baikditerapkan di passive design-nya karena akan mengemat biaya yang banyak. Contohnya adalah perencanaan sirkulasi udarayang baik sehingga mengurangi penggunaan AC. Selain itu, perubahan orientasiarah bangunan juga dapat mengurangi panas dalam ruangan. Dengan teknolgi sensor pencahayaan yang sensitif terhadap gerakan manusia, efisiensi energi juga dapat lebih ditingkatkan.

 

PeranStrategis Jakarta

Indonesia merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Sektor bangunan di Indonesia merupakan pengkonsumsi energi terbesar ketiga (WorldBank, 2012). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga berharap bahwa kontribusi green building di Indonesia diharapkan nyata seperti target yang dicanangkan oleh untuk menekan laju emisi sebesar 26%. Efisiensi yang diterapkan pada green building juga ditujukan untuk penghematan sumber daya alam, misal bahan bakar fosil untuk listrik dan air,serta penggunaan material bangunan yang ramah lingkungan.

Commission for Environmental Cooperation (CEC), organisasi internasional yang didirikan oleh Kanada, Meksiko dan USA menyatakan bahwa penerapan bangunan yang lebihefisien dalam penggunaan energi serta mengoptimalkan kembali sistem sirkulasidan jendela, dapat mengurangi emisi 1,7 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer setiap tahunnya. Situasi ini berdasarkan hasil penelitian CEC pada 2008terhadap pemukiman, perkantoran, dan bangunan lainnya di North America yangmenghasilkan sekitar 2,2 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer setiaptahunnya. Menurut Jonathan Westeinde, ketua penelitian CEC, penerapan konsep green building adalah langkah termurah,tercepat dan paling signifikan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Daripenelitian ini juga diketahui bahwa sekitar 35% gas-gas rumah kaca dihasilkan dari bangunan, menjadi kontributor terbesar.

Berdasarkan data-data tersebut, Jakarta seharusnya bisa lebih berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca. Penerapan konsep green building pada sektor bangunan di Jakarta merupakan peran strategis yang dapat dilakukan oleh Jakarta untuk mengurangi emisi gas rumahkaca dengan murah, cepat dan signifikan. 


Referensi

_____. 2012. GreenBuildings: Cutting Jakarta’s Greenhouse Gases. https://www.wbginvestmentclimate.org/uploads/Telling%20the%20story%20-%20green%20building.pdf

A.K., Rintulebda. 9 November 2012. Green Building Solusi Global Warming. http://www.undip.ac.id/index.php/arsip-berita-undip/78-latest-news/2068-green-building-solusi-global-warming

Biello, David. 17 Maret 2008. Green Buildings May Be Cheapest Way to Slow Global Warming. http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=green-buildings-may-be-cheapest-way-to-slow-global-warming

Erawan, Anto. 28 Juni 2012. ‘Green Property Adalah Keharusan'. http://www.rumah.com/berita-properti/2012/6/1250/-green-property-adalah-keharusan-

Erawan, Anto. 28 Juni 2012. Ternyata Indonesia Baru Punya Dua Green Building. http://www.rumah.com/berita-properti/2012/6/1244/ternyata-indonesia-baru-punya-dua-green-building

Latief, M. 9 September 2011. Indonesia Harus Adopsi Standar "Green Building" Internasional.http://properti.kompas.com/read/2011/09/09/17102532/Indonesia.Harus.Adopsi.Standar.Green.Building.Internasional

Ririh, Natalia. 17 Februari 2011. Saatnya Pengelola Gedung Beralih ke "Green Building". http://properti.kompas.com/read/2011/02/17/21153667/Saatnya.Pengelola.Gedung.Beralih.ke.Green.Building.

Ririh, Natalia. 25 Februari 2012. Gedung Pemerintah Jadi Contoh Green Building. http://properti.kompas.com/read/2011/02/25/11325547/Gedung.Pemerintah.Jadi.Contoh.Green.Building

Susanto, Ichwan. 12 Agustus 2011. Sertifikasi Green Building Diluncurkan. http://properti.kompas.com/read/2011/08/12/13300934/Sertifikasi.Green.Building.Diluncurkan.


i i
iec image   PREVIOUS  |  NEXT   iec image