iec image
NEWS & ARTICLE
2009-01-08
Perbaikan Lahan Terkontaminasi Minyak Bumi Secara Bioremediasi

Berbagai kasus pencemaran limbah berbahaya dan beracun (B3) dari kegiatan penambangan minyak bumi yang terjadi di Indonesia memerlukan perhatian yang lebih serius.Kasus pencemaran seperti yang terjadi di Tarakan (Kalimantan Timur), Riau, Sorong(Papua), Indramayu serta terakhirkasus pencemaran di Bojonegoro (Jawa Timur) seharusnya menjadi catatan pentingbagi para pengelola penambangan minyak akan pentingnya pengelolaan pencemaranminyak di Indonesia.


Eksplorasidan eksploitasi produksi minyak bumi melibatkan juga aspek kegiatan yangberesiko menumpahkan minyak antara lain : distribusi/pengangkutan minyak bumidengan menggunakan moda transportasi air, transportasi darat, marineterminal/pelabuhan khusus minyak bumi, perpipaan dan eksplorasi dan eksploitasimigas lepas pantai (floating production storage offloading, floading storageoffloading) (Pertamina, 2005). Setiap tahun kebutuhan minyak bumi terusmengalami peningkatan seiring dengan tingginya kebutuhan energi sebagai akibatkemajuan teknologi dan kebutuhan hidup manusia, sehingga potensi pencemaranoleh minyak bumi juga meningkat. Tumpahan minyak dan kebocoran pipa dalamjumlah tertentu dengan luas dan kondisi tertentu, apabila tidak dikendalikanatau ditanggulangi dengan cepat dan tepat dapat mengakibatkan terjadinya suatumalapetaka “pencemaran lingkungan oleh minyak” yaitu kualitas lingkungantersebut turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan menjadi kurang atautidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

Pencemaranlingkungan oleh minyak telah menimbulkan masalah serius. Penelitian di Jermanmenunjukkan bahwa 0,5 – 0,75 ton minyak hilang untuk setiap 1000 ton minyakyang dihasilkan. Kehilangan tersebut terjadi selama proses produksi danpengilangan sebesar 0,1 ton, selama pengangkutan sebanyak 0,1 ton dankehilangan terbesar 0,4 ton terjadi selama penyimpanan. Kehilangan minyak ini menyebabkan terjadi pencemaran di lingkungan sekitarnya.

Tanahyang terkontaminasi minyak tersebut dapat merusak lingkungan serta menurunkanestetika. Lebih dari itu tanah yang terkontaminasi limbah minyak dikategorikansebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sesuai dengan Kep. MenLH 128Tahun 2003. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan dan pengolahan terhadaptanah yang terkontaminasi minyak. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebarandan penyerapan minyak kedalam tanah.

Pemulihan lahan tercemar oleh minyak bumi dapat dilakukan secara biologi denganmenggunakan kapasitas kemampuan mikroorganisme Fungsi dari mikroorganisme inidapat mendegradasi struktur hidrokarbon yang ada dalam tanah yangterkontaminasi minyak bumi menjadi mineral-mineral yang lebih sederhana sertatidak membahayakan terhadap lingkungan. Teknik seperti ini disebutbioremediasi. Teknik bioremediasi dapat dilaksanakan secara in-situ maupun caraex-situ. Teknik bioremediasi in-situ umumnya diaplikasikan pada lokasi tercemarringan, lokasi yang tidak dapat dipindahkan, atau karakteristik kontaminan yangvolatil. Bioremediasi ex-situ merupakan teknik bioremediasi dimana lahan atauair yang terkontaminasi diangkat, kemudian diolah dan diproses pada lahankhusus yang disiapkan untuk proses bioremediasi. Penanganan lahan tercemarminyak bumi dilakukan dengan cara memanfatkan mikroorganisme untuk menurunkankonsentrasi atau daya racun bahan pencemar. Penanganan semacam ini lebih aman terhadap lingkungan karena agen pendegradasi yang dipergunakan adalahmikroorganisme yang dapat terurai secara alami.

Ruanglingkup pelaksanaan proses bioremediasi lahan/tanah terkontaminasi minyak bumimeliputi beberapa tahap yaitu: treatibility study yaitu studi pendahuluanterhadap kemampuan jenis mikroorganisme pendegradasi dalam menguraikan minyakbumi yang terdapat di lokasi tanah terkontaminasi; site characteristic yaitustudi untuk mengetahui kondisi lingkungan awal di lokasi tanah terkontaminasiminyak bumi yang meliputi kondisi kualitas fisik, kimia dan biologi; persiapanproses bioremediasi yang meliputi persiapan alat, bahan, administrasi sertatenaga manusia; proses bioremediasi yang meliputi serangkaian proses penggaliantanah tercemar, pencampuran dengan tanah segar, penambahan bulking agent,penambahan inert material, penambahan bakteri dan nutrisi serta prosespencampuran semua bahan; sampling dan monitoring meliputi pengambilan cuplikantanah dan air selama proses bioremediasi. Cuplikan kemudian dibawa kelaboratorium independent untuk dianalisa konsentrasi TPH dan TCLP; revegetasiyaitu pemerataan, penutupan kembali drainase dan perapihan lahan sehingga lahankembali seperti semula.

Seluruhprosedur kerja serta pelaksanaan Bioremediasi mengacu pada Keputusan MenteriLingkungan Hidup nomor 128 Tahun 2003 tentang Tata cara dan Persyaratan teknikPengelolaan Limbah minyak dan Tanah Terkontaminasi oleh Minyak Bumi secarabiologis.

Author                          :  Dr. Ir. Hery Budianto, MT

Date                             :  8 January 2009

Reference                  :  -

Picture Source          : http://uh519fall2010.wikispaces.com/Green+Remediation

iec image   PREVIOUS  |  NEXT   iec image