iec image
BERITA & ARTIKEL
2012-07-13
GREEN BUILDING: SOLUSI STRATEGIS JAKARTA UNTUK PEMANASAN GLOBAL
Jakarta, sebagai ibukota negara Indonesia memiliki persentase sektor bangunan yang besar. Lebih dari 30% wilayah Jakarta merupakan wilayah terbangun, yang termasuk dalam kategori sektor bangunan. Selain sektor transportasi, sektor bangunan di Jakarta menyumbang total emisi karbon dioksida yang signifikan. Hal ini tentunya sebanding dengan luasan sektor bangunan di Jakarta yang cukup besar. Sebagai perbandingan, menurut berbagai literatur, sektor bangunan di Amerika berkontribusi 30% lebih dari total emisi karbon dioksida di negara tersebut.
Konsumsi energi pada sektor bangunan dapat dikatakan cukup besar untuk penerangan ataupun pendingin ruangan. Sumber energi untuk konsumsi gedung tersebut berasal dari bahan bakar fosil yang mengemisikan karbon dioksida dalam jumlah yang sangat signifikan. Selain itu, sektor bangunan juga berkontribusi besar terhadap konsumsi air dan listrik di suatu wilayah. Menurut EPA, sektor bangunan berkontribusi terhadap 39% dari total pemakaian energi, 12% dari total konsumsi air, 68% dari total konsumsi listrik, dan 38% dari total emisi karbon dioksida di seluruh wilayah Amerika (EPA, 2011).

Jakarta dengan persentase sektor bangunan yang cukup besar dapat mengurangi emisi karbon dioksida melalui penerapan konsep green building. Penerapan konsep green building di Jakarta yang akan mengurangi konsumsi energi di pemukiman dan bangunan komersial, secara potensial dapat mengurangi emisi 10 juta ton karbon dioksida per tahunnya (World Bank, 2012).

Green building didefinisikan oleh Environmental Protection Agency (EPA) sebagai struktur bangunan yang environmentally responsible dan menggunakan sumber daya secara efisien di seluruh siklus hidupnya. Konsep ini memperluas dan melengkapi tujuan dari bangunan biasa yang selama ini hanya fokus kepada nilai ekonomi, utilitas, kekuatan dan kenyamanan bangunan. Green building dirancang untuk mengurangi dampak menyeluruh akibat pembangunan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, melalui:- Penggunaan energi, air dan sumber daya lain secara efisien- Perlindungan kesehatan penghuni bangunan dan peningkatan produktivitas karyawan- Minimalisir timbulan limbah, polusi, dan degradasi lingkungan

Indonesia telah memasang target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada tahun 2020. Hal ini seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN – GRK). Demi mendukung upaya nasional tersebut Pemerintah Kota Jakarta telah berkomitmen untuk turut mengurangi emisi gas rumah kaca melalui Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau. Berdasarkan peraturan tersebut, seluruh gedung di Jakarta mulai April 2013 harus memenuhi persyaratan gedung ramah lingkungan atau green building.

Meskipun belakangan ini banyak pengembang properti maupun perumahan yang menyatakan bahwa bangunannya berkonsep green building, pihak GBCI menyatakan saat ini baru ada dua gedung di Indonesia yang secara resmi telah memiliki sertifikasi Green Building. Dibandingkan negara tetangga, Singapura, Indonesia saat ini memang jauh tertinggal dalam menerapkan green building. Saat ini di Singapura telah terdapat setidaknya 11.000 bangunan yang bersertifikasi green building. Bintang Nugroho, Deputy of Organization and Events Green Building Council Indonesia menyebutkan, cost untuk membangun green building bersertifikasi platinum lebih tinggi 10% dari gedung biasa, gold (6%), silver (3%), sementara sertifikasi bronze tidak ada bedanya.

Pemerintah Singapura mengatasi tantangan ini dengan memberikan insentif berupa uang bagi pengembang yang membangun gedung dengan konsep green building. Menurut Ignesjz Kemalawarta, Ketua Badan Sertifikasi dan Advokasi Real Estat Indonesia (REI), Pemerintah Indonesia bisa memberikan insentif antara lain berupa pemotongan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Meskipun demikian, seiring berjalan waktu, biaya pembangunan green building pasti akan turun. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat saat ini biaya pembangunan green building tidak berbeda dengan bangunan biasa.

Walaupun harus mengeluarkan biaya besar di awal konstruksinya, konsep green building justru akan mengurangi biaya operasional bangunan. Naning Adiwoso, Chairman GBCI menyatakan bahwa sebuah gedung komersil yang mengikuti standar penilaian Greenship biasanya mampu melakukan penghematan energi antara 26% sampai 40% setiap bulannya. Penghematan tersebut bersumber pada berkurangnya volume penggunaan AC, penerangan gedung, serta penggunaan air.Meskipun investasi awal saat pembangunan lebih besar dari bangunan biasa, namun saat operasional justru pengelola gedung mendapatkan keuntungan dari penghematan penggunaan energi dan air.

Commission for Environmental Cooperation (CEC), organisasi internasional yang didirikan oleh Kanada, Meksiko dan USA menyatakan bahwa penerapan bangunan yang lebih efisien dalam penggunaan energi serta mengoptimalkan kembali sistem sirkulasi dan jendela, dapat mengurangi emisi 1,7 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer setiap tahunnya. Situasi ini berdasarkan hasil penelitian CEC pada 2008 terhadap pemukiman, perkantoran, dan bangunan lainnya di North America yang menghasilkan sekitar 2,2 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer setiap tahunnya. Menurut Jonathan Westeinde, ketua penelitian CEC, penerapan konsep green building adalah langkah termurah, tercepat dan paling signifikan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Berdasarkan data-data tersebut, Jakarta seharusnya bisa lebih berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca. Penerapan konsep green building pada sektor bangunan di Jakarta merupakan peran strategis yang dapat dilakukan oleh Jakarta untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan murah, cepat dan signifikan.

Referensi
_____. 2012. Green Buildings: Cutting Jakarta’s Greenhouse Gases. https://www.wbginvestmentclimate.org/uploads/Telling the story - green building.pdf
A.K., Rintulebda. 9 November 2012. Green Building Solusi Global Warming. http://www.undip.ac.id/index.php/arsip-berita-undip/78-latest-news/2068-green-building-solusi-global-warming
Biello, David. 17 Maret 2008. Green Buildings May Be Cheapest Way to Slow Global Warming. http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=green-buildings-may-be-cheapest-way-to-slow-global-warming
Erawan, Anto. 28 Juni 2012. ‘Green Property Adalah Keharusan'. http://www.rumah.com/berita-properti/2012/6/1250/-green-property-adalah-keharusan-
Erawan, Anto. 28 Juni 2012. Ternyata Indonesia Baru Punya Dua Green Building. http://www.rumah.com/berita-properti/2012/6/1244/ternyata-indonesia-baru-punya-dua-green-building
Latief, M. 9 September 2011. Indonesia Harus Adopsi Standar "Green Building" Internasional.
http://properti.kompas.com/read/2011/09/09/17102532/ Indonesia.Harus.Adopsi.Standar.Green.Building.InternasionalRirih, Natalia. 17 Februari 2011. Saatnya Pengelola Gedung Beralih ke "Green Building".
http://properti.kompas.com/read/2011/02/17/21153667/ Saatnya.Pengelola.Gedung.Beralih.ke.Green.Building.
Ririh, Natalia. 25 Februari 2012. Gedung Pemerintah Jadi Contoh Green Building.
http://properti.kompas.com/read/2011/02/25/11325547/ Gedung.Pemerintah.Jadi.Contoh.Green.Building
Susanto, Ichwan. 12 Agustus 2011. Sertifikasi Green Building Diluncurkan.
http://properti.kompas.com/read/2011/08/12/13300934/ Sertifikasi.Green.Building.Diluncurkan
iec image   PREVIOUS  |  NEXT   iec image