iec image
NEWS & ARTICLE
2013-05-01
Lebih Bijak Mengelola Lahan

Pengelolaan lahan menjadi salahsatu isu lingkungan terpenting abad 21. Hal ini seperti yang tercantum dalamBuku Tahunan Program Lingkungan PBB (UNEP’s Year Book) 2012, bahwa selama 25tahun terakhir, sebanyak 24% wilayah daratan dunia telah mengalami penurunankualitas dan produktivitas akibat pola pengelolaan tanah yang tidak berkelanjutan.

Pengelolaan lahan menjadi salahsatu isu lingkungan terpenting abad 21. Hal ini seperti yang tercantum dalamBuku Tahunan Program Lingkungan PBB (UNEP’s Year Book) 2012, bahwa selama 25tahun terakhir, sebanyak 24% wilayah daratan dunia telah mengalami penurunankualitas dan produktivitas akibat pola pengelolaan tanah yang tidakberkelanjutan.

Di Indonesia, kerusakan lahanakibat pengelolaan tanah yang tidak berkelanjutan semakin meluas. Di tahun 2000 terjadi lahan kritis seluas 23.242.791 ha dan bertambah luas sekitar 96.513.343ha pada tahun 2004. Lahan kritis tersebut tersebar terutama di Sumatera,Kalimantan, dan Sulawesi. Kecenderungan terjadinya lahan kritis di tiga pulaubesar di Indonesia tersebut semakin cepat. Sementara perluasan lahan kritis diJawa, Bali/Nusa Tenggara, Maluku dan Papua terjadi namun tidak secepat diSumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Keadaan ini bila dibiarkanterjadi terus menerus akan mengubah seluruh wilayah Indonesia menjadi lahantergarap. Menurut UNEP’s Year Book 2012, jika tidak ada perubahan caramengelola lahan, pada tahun 2030 lebih dari 20% habitat di darat seperti hutan,rawa-rawa dan padang rumput di negara berkembang akan berubah menjadi lahangarapan. Hal ini akan menyebabkan kerusakan parah pada keanekaragaman hayatidan ekosistem penting seperti material, air dan energi. Pengelolaan lahan yangburuk juga berdampak besar pada perubahan iklim. Hal ini karena tanahmengandung sejumlah bahan organik yang berfungsi sebagai penyimpan karbon dalamjumlah besar.

Indonesia sebagai negaraberkembang, dengan pengelolaan lahan yang belum merata ke seluruh wilayahnyatentu harus menjadikan isu ini sebagai perhatian. Kerusakan lahan yang telahterjadi di sebagian wilayah yang telah terbangun, hendaknya tidak meluas kepadawilayah yang lebih tertinggal. Sebaliknya, wilayah yang sekarang masihtertinggal seharusnya dibangun dengan konsep pengelolaan lahan yang lebih baik.

Pemanfaatan Sumberdaya Lahan di Indonesia Saat Ini

Saat ini, sumberdaya lahan tidakhanya berfungsi sebagai pemukiman dan pertanian, namun juga meluas untukberbagai kepentingan seperti industri, peternakan, perikanan, perkebunan,kehutanan, perkotaan, bangunan, pariwisata, dan perdagangan. Status penggunaandan kepemilikan lahan sebagai penguasaan terhadap sumberdaya lahan pun mulaisulit dikendalikan. Rekayasa pengelolaan lahan dengan teknologi modern semakinbanyak dilakukan. Pengelolaan lahan seperti ini semata-mata mengarah padakepentingan ekonomi dan bila tidak segera dikendalikan agar berdampak buruk terhadapekologi dan iklim.

Sebagian besar wilayah diIndonesia saat ini menghadapi ketidakseimbangan antara lingkungan dan ekonomi,sebagai contoh di Jawa adanya kasus kerusakan lingkungan di pegunungan Dieng,kerusakan lingkungan perairan di Rawapening, kerusakan lingkungan di lerengGunung Slamet dan Gunung Lawu, kerusakan lahan di lereng Merapi olehpertambangan di Kabupaten Magelang, Sleman dan Klaten.

Lahan potensial untuk pertaniandi Indonesia sekitar 100,7 juta hektar. Lahan pertanian terluas terdapat diSumatera yaitu 19.738.192 ha. Sementara lahan pertanian di Kalimantan seluas 17.234.968ha, di Jawa 6.779.346 ha (0,53%), Bali- Nusatenggara 3.360.922 ha (0,46%), dandi Sulawesi 6.269.736 ha (0,32%). Lahan untuk tempat tinggal/ bangunan di PulauJawa mencapai  1.768.205 ha (0,13%)dan lahan untuk tempat tinggal di Pulau Sumatera dan Bali-Nusatenggara mencapai0,04 %, sedangkan di Kalimantan dan Sulawesi persentase lahan untuk tempattinggal relatif masih kecil (0,01% dan 0,03%).

Lahan potensial pertanian terusberkurang seiring bertambahnya tekanan dalam bentuk pertambahan jumlah pendudukyang meningkatkan kebutuhan akan lahan pemukiman. Tekanan terhadap lahan akibataktivitas manusia yang sangat tinggi terjadi di Pulau Jawa akibat jumlahpenduduk yang terus meningkat jauh dibandingkan wilayah lainnya. Gejala tekananlahan juga mulai terlihat di Pulau Sumatera, Bali dan Nusa Tenggara, yangditunjukkan oleh perubahaan fungsi lahan seiring dengan pertambahan jumlahpenduduk di wilayah tersebut. Perubahan fungsi lahan dan pembangunan di bidangkehutanan, pertambangan, industri dan pemukiman juga terjadi di PulauKalimantan dan Sulawesi. Perubahan fungsi lahan yang tidak sesuai dengan fungsikawasan dan potensi lahannya, serta pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutandapat menyebabkan terjadinya kerusakan lahan dan lingkungan serta bencana alamdalam suatu ekosistem. Pada tahun 2007, alih fungsi lahan subur ke lahanindustri perumahan (non pertanian) di Indonesia tercatat adalah 141.000ha/tahun.

Perlunya Pengelolaan Lahan yang Baik

Pengelolaan lahan yang kurangtepat dapat meningkatkan konsentrasi karbon di udara yang akan berdampak lanjutpada perubahan iklim. Dibanding lahan pertanian, karbon dalam jumlah yang lebihbesar terkandung dalam hutan alami. Hutan alami dengan keragaman jenis pohonberumur panjang merupakan penyimpan karbon tertinggi di alam (Hairiah danRahayu, 2007).

Pada masa pertumbuhan tanamannya,hutan menyimpan gas karbon yang dikenal dengan istilah karbon biomassa. Halyang sama juga terjadi pada tanaman di lahan pertanian. Ketika tanamanmengalami pergantian generasi atau mati, akan dihasilkan sampah dandilepaskanlah gas karbon. Kegiatan-kegiatan yang mengakibatkan terjadinyaperubahan tutupan lahan pada areal hutan dan kegiatan-kegiatan manajemenpenggunaan lahan (crop management)pada areal pertanian akan menghasilkan gas karbon yang besar ke udara, sebagaiakibat dari matinya tumbuhan. Karbon yang tadinya tersimpan di tanah dan ditumbuhan akan terlepas ke atmosfer (Baligreen, 2009). Kemampuan bumi untukmenyerap karbon melalui fotosintesis tumbuhan di hutan juga berkurang. Halinilah yang kemudian menjadi penyebab terjadinya pemanasan global. Perubahanfungsi lahan mengakibatkan perubahan penyimpanan karbon di alam.

Perubahan fungsi lahan untukmemenuhi kebutuhan manusia tentunya harus mempertimbangkan aspek ekologistersebut. Pengelolaan lahan bagaimanapun juga harus dilakukan demi memenuhikebutuhan manusia. Namun aspek ekologis harus menjadi pertimbangan utamadisamping pertimbangan teknis dan ekonomi. Pengelolaan lahan yang tidakmemperhatikan aspek ekologis akan berdampak pada kerusakan lingkungan hidupmanusia dan bahkan berdampak pada perubahan iklim.

Indonesia Patutnya Lebih Bijak Dalam Mengelola Lahan

Pengelolaan lahan seharusnyamempertimbangkan aspek fisik, lingkungan hidup, sosial, ekonomi, budaya, danpolitik. Perihal kepemilikan lahan juga seharusnya diatur dalam tata ruang/tataguna lahan agar pembangunan wilayah dapat disesuaikan dengan nilai ekologis,fungsi lindung, dan budidaya. Pemanfaatan kawasan di luar fungsi yangseharusnya merupakan bentuk pemanfaatan yang dapat merusak fungsi ruang dankelestarian sumberdaya ekologis.

 

Saat ini, pengalihan fungsi lahankonservasi/ lahan sawah irigasi menjadi lahan non pertanian, seperti perumahan,bangunan gedung dan perumahan banyak terjadi di pinggiran kota di Indonesia.Contoh pemanfaatan sumberdaya lahan yang tidak tepat lainnya antara lain adalahbudidaya di kawasan lindung Pegunungan Dieng, Lawu, Gunungapi Merapi, Merbabu,Sundoro Sumbing, terutama pada lereng diatas 40%. Hal ini menyebabkan adanyaerosi, longsor, dan lahan kritis. Aktivitas pertambakan yang menggantikanfungsi kawasan lindung pantai berupa Hutan Mangrove di Pantai Utara Pulau Jawajuga merupakan salah satu contoh pemanfaatan lahan yang tidak tepat karenadapat menimbulkan abras dan terganggunya kondisi keairan di wilayah pantai.Penertiban IMB dan penegakan hukum lingkungan di Indonesia saat ini belumberjaan dengan efektif. Selain itu, kesadaran masyarakat luas tentang tatatertib penggunaan lahan juga masih rendah. Dengan demikian, sistem pengendaliandan pengaturan pemanfaatan lahan perlu diperjelas dan diperluas pemahamannyakepada masyarakat. Kesadaran masyarakat akan peraturan pemanfaatan lahan menjadisalah satu kunci keberhasilan perwujudan tata guna lahan yang baik.

Selain itu, beberapa langkahstrategik di bidang pengelolaan sumberdaya lahan yang perlu diperhatikan diIndonesia adalah:

(1)   Mengutamakan pengelolaansumberdaya yang dapat diperbaharui.

(2)   Penghematan dan pelestariansumberdaya lahan.

(3)   Penerapan dan pengembanganrencana penggunaan lahan dan penataan ruang yang efektif.

(4)   Melindungi sumberdaya alam/lahanyang memberikan manfaat spasial- ekologikal  sebagai contoh kawasan lindung.

(5)   Merehabilitasi berbagaikerusakan sumberdaya lahan oleh akibat manusia dibidang pertanian.

(6)   Mereklamasi lahan yang rusakoleh akibat kegiatan manusia dibidang non pertanian.

(7)   Mengelola sumberdaya lahan/alamberbasis spasial dan berwawasan lingkungan.

 

Ditinjau dari aspek sumberdayaruang (spatial resources) diIndonesia, pengelolaan sumberdaya lahan yang berkelanjutan dan berwawasanlingkungan tidak hanya perlu diterapkan di kota-kota besar di Indonesia, namunjuga di seluruh wilayah Indonesia. Kesalahan pemanfaatan ruang yang telahterjadi di beberapa wilayah, hendaknya menjadi pelajaran bagi wilayah lain.Konsep pengelolaan wilayah yang baik dan sesuai dengan aspek fisik, lingkunganhidup, sosial, ekonomi, budaya, dan politik harus diterapkan untuk pembangunanselanjutnya di wilayah Indonesia. Dengan demikian, kerusakan lahan akibatpengelolaan tanah yang tidak berkelanjutan tidak semakin meluas dan resikoperubahan iklim dapat ditekan.

Author                          :  Gita Lestari

Date                             :  -

Picture Source           : ridhanu.wordpress

Reference                  :  


iec image   PREVIOUS  |  NEXT   iec image