iec image
NEWS & ARTICLE
2013-05-01
Belajar Mengelola Air Bersih dari Singapura

Air merupakan salah satukebutuhan mendasar bagi sebuah kota. Tanpa keberadaan air yang mencukupi,aktivitas kota tidak akan berjalan normal. Sebuah kota dengan sejumlah pendudukdi dalamnya akan selalu membutuhkan pasokan air untuk menjalankan fungsinya. 

Jakarta, sebagai ibukota negaradengan jumlah penduduk mencapai 9,7 juta jiwa menghadapi masalah pelik dalamhal ketersediaan air. Kota dengan luas wilayah 661 km2 ini harusmemenuhi kebutuhan airnya dari sumber air di luar kota. Pasokan air  yang mencapai 98% bergantung dari luarwilayah ini mengakibatkan ketahanan air Jakarta menjadi rentan. Ketersediaanair di kota ini menjadi sangat bergantung pada kontinuitas sumber air yangberada di luar daerahnya. Krisis air di Jakarta juga diakibatkan oleh masihtingginya tingkat kebocoran pada jaringan pipa air bersih.

Bila melihat Singapura, denganluas wilayah 700 km2 dan terbatasnya sumber air bersih, negara inimampu menyediakan kebutuhan air bersih bagi penduduknya melalui manajemenpengelolaan yang baik. Singapura mengolah kembali air limbah, melakukandesalinasi (menghilangkan garam dan mineral dari air laut), memperluas areatangkapan air, dan mengefisienkan penggunaan air serta manajemenpengelolaannya.

Ketersediaan air bersih diJakarta akan menjadi persoalan yang semakin besar di masa mendatang bila tidakdiantisipasi dari sekarang. Berkaca dari Singapura dengan luas wilayah yanghampir sama, mampukah Jakarta mengelola ketersediaan air bersihnya dengan lebihbaik?

Kondisi Air Jakarta

Dengan jumlah penduduk mencapai9,7 juta jiwa, saat ini Jakarta membutuhkan pasokan air bersih paling tidaksebesar 21 ribu liter/detik (PAM Jaya, 2012). Saat ini, pasokan yang mampudisediakan PAM Jaya hanya sekitar 18 ribu liter/detik.

Menurut data WALHI (2011), setiaptahunnya penduduk Jakarta membutuhkan sekitar 765 juta m3 air bersihuntuk kebutuhan domestik. Ditambah dengan jumlah kebutuhan untuk industri danperkantoran, total kebutuhan air Jakarta per tahun diperkirakan mencapai 1 miliarm3. Sungai Ciliwung yang dulunya mampu memenuhi kebutuhan air bersihpenduduk Jakarta, kini semakin memburuk kualitasnya. Seiring dengan pertumbuhanjumlah penduduk, Sungai Ciliwung tidak mampu lagi memenuhi seluruh kebutuhanair bersih kota.

Di wilayah Jakarta setidaknya ada12 aliran sungai yang melintas. Namun dari 12 aliran sungai tersebut, hanya airdari Kali Krukut yang bisa diproduksi menjadi air bersih. Kuantitas dari alirantersebut juga tidak besar, yaitu 4,6% dari produksi air PDAM atau sekitar 400liter/detik. Sumber air lainnya didapatkan dari Sungai Cisadane (wilayahTangerang) dan aliran air dari Sungai Citarum (Waduk Jatiluhur) melalui KanalTarum Barat (KTB).

Direktur Utama PAM Jaya, MauritsNapitupulu menyebutkan dari 18 ribu m3/detik total kebutuhan airbaku di DKI Jakarta per hari, hanya 2% atau 0,4 m3/detik yangdipenuhi dari dalam Jakarta. Selebihnya, 83% sumber air bersih didapatkan dariSungai Citarum (KTB), yang diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Buaran I danII, Pejompongan I dan II serta Instalasi Pulogadung. 15% sumber air lainnyadidapat dari Sungai Cisadane (Tangerang).

Layanan air bersih di Jakartatelah diprivatisasi sejak 13 tahun lalu. Sejak itu, pelayanan air bersihJakarta dipercayakan kepada PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan PT Aetra AirJakarta. Saat ini, dua operator pelayanan air bersih di Jakarta ini baru mampumemenuhi sekitar 54% kebutuhan air bersih untuk warga DKI Jakarta. Selebihnya,46% kebutuhan air bagi warga diperoleh dari sumber air tanah.

Selain masalah dalam bentukkebocoran pipa serta cakupan pelayanan air yang belum maksimal, Jakarta jugamenghadapi masalah dalam kualitas, kuantitas dan kontinuitas sumber airbakunya. Kualitas air baku dari Waduk Jatiluhur melalui Kanal Tarum Baratdiketahui terus menurun. Pada 2010, tingkat ammonia air sekitar 2,9 mg/literdan meningkat hingga 4,8 mg/liter pada periode Januari hingga November 2011.Angka itu jauh di atas ambang batas maksimum yang ditetapkan, yakni 1,0mg/liter. Padahal lebih dari 80% kebutuhan air Jakarta dipenuhi dari sumberini. Penurunan kualitas air Sungai Citarum ini tidak lain diakibatkan olehkerusakan daerah tangkapan yang mengakibatkan erosi dan sedimentasi, pembuanganlimbah domestik dan industri, serta keramba jaring apung.

Perbaikan kawasan Daerah AliranSungai Citarum atau pencarian sumber air baku cadangan menjadi penting bagiJakarta, mengingat kebutuhan air bersih Jakarta akan terus meningkat. Padatahun 2015, defisit air baku Jakarta diperkirakan akan mencapai 13.650 liter/detik,dan pada 2020 defisit akan mencapai 21.000 liter/detik. Jakarta perlu melakukanupaya serius untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi penduduknya.

Belajar dari Singapura

Tidak seperti Jakarta yangdilalui oleh setidaknya 12 aliran sungai, Singapura memiliki masalah sumber airbersih yang pelik karena keterbatasan daerah tangkapan air dan sumber air bakudi wilayahnya. Saat ini, setengah lahan Singapura digunakan sebagai lokasipenyimpanan air untuk memenuhi kebutuhan 1,4 juta m3 air bersih dinegeri itu.

Dengan segala keterbatasan yangdimiliki, Singapura bekerja keras memproduksi air bersih bagi penduduknya.Negara dengan penduduk lebih dari 5 juta jiwa ini mengupayakan manajemenpengelolaan air bersih yang baik. Selain mengimpor, kebutuhan air bersihSingapura diperoleh dari reservoir dan daerah tangkapan air lainnya (20% daritotal kebutuhan), penyulingan air laut (10%), dan pengolahan air limbah menjadiair bersih (30%).

Singapura mengalokasikan setengahdari luas daratannya (akhir tahun ini akan ditingkatkan menjadi dua per tiga)sebagai daerah tangkapan air. Area ini dilindungi dari alih fungsi danpenggunaan lahan lainnya dengan tujuan untuk menangkap setiap tetes air hujandi Singapura. Melalui drainase permukaan, sungai dan reservoir, air hujankemudian masuk ke instalasi pengolahan untuk diolah menjadi air bersih.

Singapura telah memulai upayapengolahan air limbah menjadi air bersih sejak pertengahan tahun 1970-an.Menjelang peralihan abad ke-21, Singapura sukses dengan percobaannya padapabrik reklamasi air Bedok. Berawal dengan produksi 10.000 m3 air,pabrik di Bedok ini menghasilkan air bersih yang memenuhi syarat BadanPerlindungan Amerika Serikat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Modeltersebut kemudian direplikasi dalam skala yang lebih luas di Singapura. Hinggasaat ini, dapat dikatakan 100% air limbah di Singapura dikumpulkan melaluijaringan dan diproses untuk kemudian didistribusikan kembali sebagai air bersihdengan nama NEWater.

Untuk menambah jumlah produksiair bersih, Singapura juga memanfaatkan air laut. Pada akhir tahun 2005, Singapuramendirikan pabrik desalinasi air laut Tuas senilai 200 juta dollar Singapura.Inilah pabrik pengolah air laut pertama untuk tingkat kecamatan dengankapasitas 114 juta m3 air/hari.

Singapura juga memberikanperhatian khusus melalui kebijakan-kebijakan dalam rangka menjaga dan mengurusair bersih. Salah satu contoh adalah melalui Undang-Undang Peternakan yangdijalankan dengan ketat, Singapura mencegah limbah peternakan mengkontaminasisumber air bersih. Singapura memberikan contoh bahwa pengelolaan air bisaberjalan dengan baik jika manajemen yang baik juga diterapkan di sektor lainyang terkait.

Harapan Air Bersih Untuk Jakarta

Belajar dari Singapura, Jakartaperlu lebih serius dan tegas dalam melakukan pengelolaan air bersih demimemenuhi kebutuhan kota. Dengan sejumlah aliran yang sungai yang melalui kota,Jakarta seharusnya bisa menghasilkan sumber air baku dari dalam kotanyasendiri. Sementara itu, sumber air baku yang telah ada seharusnya dapat dijagakualitasnya.

Sejumlah aliran sungai di wilayahJakarta seharusnya bisa diupayakan untuk menjadi alternatif sumber air, selainsumber air dari Sungai Citarum dan Tangerang.

Penurunan kualitas air SungaiCitarum karena kerusakan daerah tangkapan membutuhkan perhatian daristakeholders terkait. Selain kebijakan yang ketat, dibutuhkan pula koordinasiyang baik antar instansi  demimengantisipasi rusaknya daerah tangkapan sumber air baku untuk Jakartatersebut.  Antara lain, KementerianKehutanan seharusnya memetakan kondisi daerah tangkapan air tersebut sertamemperbaiki kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan penghijauan. SementaraKementerian Pekerjaan Umum membangun dan memelihara infrastruktur waduk danjaringan.

Selain itu, Jakarta baiknya jugamencontoh upaya Singapura mengelola air hujan dan air limbah menjadi airbersih. Dengan curah hujan yang cukup tinggi, bukan tidak mungkin Jakarta mampumemenuhi kebutuhan air bersih penduduknya dari pengolahan air hujan.

Segala upaya tersebut tentunyadapat berjalan dengan baik apabila didukung dengan manajemen yang baik yangditerapkan pada seluruh sektor terkait. Kebijakan-kebijakan yang mendukungsektor air bersih perlu dioptimalkan pelaksanaannya dengan dukungan dariseluruh stakeholders terkait. Bila semua sektor ikut bergerak dengan serius,bukan tidak mungkin bahwa Jakarta akan memiliki masa depan air bersih yanglebih baik seperti Singapura.

Author                                 :  Gita Lestari

Date                                    :  -

Reference                         : 

iec image   PREVIOUS  |  NEXT   iec image